Tutorial Penggunaan eSPT Masa 21 Untuk Bendahara (Part 2)

Ini merupakan kelanjutan dari postingan saya sebelumnya tentang cara penggunaan eSPT Masa 21. Pada tahap terakhir kemarin sudah saya uraikan langkah hingga ke proses penyiapan data CSV untuk dilakukan impor data.

Apabila sudah selesai melakukan konversi data excel sesuai dengan format yang saya buatkan pada contoh sebelumnya, maka lakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Buka aplikasi eSPT dan masuk ke menu CSV -> Impor -> Bukti Potong -> Pemotongan Pajak Bulanan;
  2. Pilih file bukti potong yang akan diimpor pada lokasi penyimpanan file tersebut;
  3. Lakukan proses impor hingga selesai dan pastikan seluruh data yang akan di impor berhasil
9. Impor Data Dari CSV

Pemilihan Menu Impor Bukti Potong CSV

10. Pilih File CSV

Tampilan Menu Impor Data

11. Pilih Nama File CSV

Pemilihan File CSV Yang Telah Dibuat Sebelumnya

12. Klik Impor

Tampilan File Yang Akan Dilakukan Impor

13. Impor Berhasil

Proses Impor Berhasil Dilakukan

Sampai dengan langkah diatas berarti proses impor data berhasil dilakukan. Impor data ini adalah sebagai salah satu solusi penginputan data pemotongan pajak penghasilan pasal 21 yang dilakukan oleh pemberi kerja kepada pegawainya. Sangat efektif untuk instansi yang memiliki jumlah pegawai dalam jumlah besar, misalnya instansi militer dan kepolisian.

Untuk melihat hasil dari impor data diatas, maka pengguna aplikasi harus membuka menu Isi SPT -> SPT Induk. Tampilannya seperti gambar dibawah ini:

14. Cek SPT Induk

Menu Isi SPT Untuk Melihat Hasil Impor Data CSV

15. Tampilan SPT Induk Peg Tetap

Tampilan SPT Induk Yang Menampilkan Akumulasi Data Impor

Apabila dalam satu instansi dalam satu masa pajak (satu bulan takwim) hanya melakukan pembayaran dan pemotongan PPh Pasal 21 atas transaksi berupa gaji saja, maka langkah tersebut sudah selesai. Namun dalam tutorial ini saya melanjutkan pengisian dengan memasukan unsur penghasilan tidak teratur/tidak tetap yang dibayarkan kepada PNS/TNI/Polri dari dana APBN. Dengan kata lain, pembayaran tersebut dapat berupa uang makan, uang lembur, honorarium kegiatan dan pembayaran lain yang sifatnya tidak rutin/tidak teratur setiap bulannya.

Langkah-langkahnya hampir sama seperti pembuatan format file untuk proses impor data pajak bulanan. Bedanya yang akan kita lakukan impor berikutnya adalah data penghasilan tidak tetap/tidak teratur yang menjadi objek PPh Pasal 21 bersifat final.

16. Persiapan Bukti Potong FInal

Persiapkan Tabel Excel Untuk Template File Yang Akan di Upload

17. Data Pemotongan Final

Buat Tabel Rekap Penghasilan Final Beserta Nilai Pajak Yang Dipotong

18. Setelah Masuk Template

Lakukan Copy Paste Ke Template File CSV

19. Save As CSV BP Final

Lakukan Save As dengan Format CSV (Comma Delimited)

Setelah selesai membuat file CSV untuk di impor ke eSPT, maka selanjutnya adalah dengan masuk kembali ke menu CSV -> Impor -> Bukti Potong -> Final pada aplikasi eSPT Masa 21. Ikuti langkahnya seperti yang saya tampilkan pada gambar dibawah ini.

20. Prepare Impor CSV Final

Masuk ke Menu Impor, Bukti Potong, Final

21. Prepare Select File Impor Final

Tampilan Menu Impor Bukti Potong Final

22. Pilih File Upload

Pilihlah File Bukti Potong Final Yang Akan Di Impor

23. Setelah Impor Klik Impor

Tampilan Data Yang Akan Diimpor

24. Impor CSV Berhasil

Jika Berhasil Maka Tampilannya Seperti Ini

Setelah berhasil melakukan impor bukti potong final, sama seperti langkah sebelumnya yaitu memastikan bahwa data tersebut sudah masuk pada form SPT Induk. Caranya sama seperti pada data pengasilan rutin bulanan. Bedanya hanya letak hasil impornya tersebut masuk pada kolom tersendiri, seperti tampilan dibawah ini:

25. Tampilan PPh Final di Induk SPT

Tampilan Hasil Impor Penghasilan Yang Dikenakan PPh Final

Setelah sampai pada langkah tersebut berarti kita telah selesai melakukan impor data penghasilan baik itu yang rutin setiap bulan atau yang tidak rutin. Lalu apakah itu semua sudah selesai dan bisa melapor SPT ke kantor pelayanan pajak? Jawabannya adalah belum! Karena untuk melaporkan SPT ke kantor pelayanan pajak, wajib pajak harus mengisi terlebih dahulu data SSP (Surat Setoran Pajak) pada aplikasi eSPT, kemudian menyimpannya dan membuat file CSV yang akan dikirimkan ke kantor pelayanan pajak sebagai laporan.

26. Rekam SSP

Masuk ke Menu Isi SPT -> Daftar SSP/Pbk (1721-IV)

27. Input SSP

Tampilan Menu Isi SSP

28. Isian SSP Pajak Gaji DTP

Isian SSP Untuk Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Rutin (Gaji + Tunjangan)

29. Pilih Yes Untuk Rekam PPh Final

Tampilan Setelah Selesai Dilakukan Input SSP, Pilih Yes Untuk Melanjutkan ke PPh Final

30. Isian SSP Pajak Final

Isian Untuk Pengisian SSP atas Pembayaran PPh Final

31. Pilih No

Jika Tidak Ada Lagi SSP Yang Akan Diinput, Pilih No

Jika tidak ada lagi SSP yang akan dilakukan perekaman, dapat melanjutkan ke SPT Induk dan mengisi data lampiran lalu menyimpan SPT tersebut. Langkahnya sama seperti saat ingin melihat data penghasilan rutin dan penghasilan final. Lebih jelasnya, lihat gambar dibawah ini:

32. Tampilan Lampiran SPT Induk

Isikan sesuai dengan contoh diatas, untuk SSP sesuaikan dengan jumlah SSP yang direkam

33. Simpan SPT

Pada Bagian Ini Isikan Sesuai Contoh, Jangan Lupa Mengisi Tempat dan Klik Simpan

34. Simpan Berhasil

Tampilan Setelah Proses Simpan Berhasil

Setelah semua data tersimpan, maka langkah selanjutnya adalah mencetak formulir SPT melalui menu cetak. Cetak hanya halaman SPT Induk saja yang kemudian ditanda-tangani dan di cap oleh bendahara. Selanjutnya saya akan memberikan tutorial mengenai cara pembuatan file CSV atas data yang telah terinput di aplikasi eSPT Masa yang akan dilaporkan oleh bendahara/wajib pajak ke kantor pelayanan pajak.

35. CSV Pelaporan

Masuk Ke Menu CSV -> Pelaporan SPT

36. Buat CSV Laporan SPT

Pilih Masa Pajak Yang Akan Dilaporkan Dan Pastikan Jumlah Pajak Telah Sesuai

37. Simpan CSV ke Flashdisk

Pilih Lokasi Penyimpanan File CSV, Saran Saya Pilih ke Flash Disk

38. CSV Berhasil Dibuat

Tampilan Saat File CSV Berhasil Dibuat

Pada tahap ini berarti proses pembuatan laporan bulanan PPh Pasal 21 untuk satu masa pajak (satu bulan takwim) telah selesai. Yang perlu dilakukan selanjutnya hanyalah mencetak formulir SPT, menanda-tangani dan membubuhkan cap instansi, dan membawanya ke kantor pelayanan pajak untuk dilaporkan bersama dengan file CSV yang telah dibuat tadi.

Laporkanlah sebelum tanggal 20 pada bulan berikutnya untuk menghindari pengenaan sanksi denda keterlambatan pelaporan SPT Masa PPh Pasal 21 sebesar Rp. 100.000,00 dihitung dari jumlah SPT Masa PPh Pasal 21 yang terlambat dilaporkan.

Demikian tutorial ini saya buat, semoga dapat membantu bapak/ibu bendahara yang masih awam dengan aplikasi eSPT Masa PPh Pasal 21. Jika masih mengalami kesulitan dalam proses pengisian dapat menghubungi Account Representative di kantor pelayanan pajak tempat wajib pajak terdaftar, atau isikan pada form komentar atas postingan saya ini. Selamat belajar dan selamat mencoba, semoga sukses.

Advertisements

4 thoughts on “Tutorial Penggunaan eSPT Masa 21 Untuk Bendahara (Part 2)

  1. Pingback: Tata Cara Pelaporan SPT Masa PPh Pasal 22 | Sigit Purwanto Personal Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s