Bangkit Itu….

Hari ini 20 Mei 2016 adalah peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah perayaan hari besar kenegaraan untuk mengenang sejarah dimana pada pendahulu bangsa ini ingin bisa terbebas dari penindasan bangsa asing. Tidak mengenal suku, tidak mengenal ras, tidak mengenal warna kulit, agama atau apapun juga asalkan bangsa ini bisa secepatnya terbebas dari belenggu penjajahan. Sebuah cita-cita mulia dari para sesepuh untuk mewujudkan sebuah negara mandiri yang berdiri sendiri tanpa penjajahan dan penindasan bangsa lain.

108 tahun telah berlalu sejak momen bersejarah itu, bangsa yang dulu masih dalam cengkraman penjajah kini telah berdiri sendiri. Tapi apakah yang dicita-citakan oleh para founding father tersebut telah terwujud? Apakah negara ini telah benar-benar bangkit sepenuhnya? Pertanyaan yang rasanya sulit untuk dijawab. Apalagi dalam beberapa tahun kebelakang, makna hari kebangkitan nasional hanyalah makna simbolis saja. Hanya sebuah perayaan untuk mengenang sejarah perjalanan bangsa ini. Makna kebangkitan yang sesungguhnya tidak pernah atau bahkan dilupakan oleh kita semua.

Saya bicara demikian bukan tanpa alasan. Kalau dulu para pendiri dan tokoh bangsa ini tanpa mengenal perbedaan bisa bersatu dan sejalan dalam merumuskan langkah demi sebuah momen kebangkitan, maka sekarang justru kebalikannya. Kita seolah dibatasi oleh sekat atas nama suku, adat, ras dan agama yang lebih keren disebut dengan isu SARA. Bagaimana kita mau bangkit kalau pemikirannya masih terpecah belah, masih terkotak-kotak oleh sekat-sekat tersebut? Ibarat sebatang lidi, tidak akan mampu menyapu bersih sebuah halaman yang kotor. Namun jika beberapa lidi dikumpulkan menjadi satu dan diikat, maka akan menjadi sebuah sapu yang mampu membersihkan apapun di hadapannya.

Begitu juga dengan bangsa ini. Mulai dari jajaran tertinggi hingga ke lapisan masyarakat bawah (termasuk saya) tidak sepenuhnya mampu memaknai hari kebangkitan nasional. Kalau ditanya kenapa rasanya terlalu panjang untuk diuraikan jawabannya. Pemerintahan terkadang meributkan hal-hal yang nggak penting. Segelintir orang memanfaatkan jabatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan dan kadang ditempung dengan menghalalkan segala cara. Antara eksekutif, legislatif dan yudikatif berjalan tanpa arah yang jelas, yang terkadang mengakibatkan konflik dan benturan diantara mereka. Lalu kapan pemerintah memikirkan kepentingan rakyatnya? Kapan bangsa ini menjadi besar, mandiri dan disegani bangsa lain di dunia kalau pemerintahnya terus-terusan seperti ini?

Lalu dari sisi masyarakat apakah lebih baik atau sama saja? Jawabannya juga sama. Sekat yang saya sebutkan tadi seolah menjadi belenggu yang membuat masyarakat akhirnya menjadi cuek dengan keadaan. Mau menolong orang lain, tapi memandangnya dari sisi SARA. Mau memilih pemimpin lagi-lagi membawa isu SARA. Jika kondisinya terus menerus demikian, dimana makna kebangkitan nasional? Jika diperluas lagi, kapan bangsa kita tercinta ini bisa benar-benar bangkit dan menjelma menjadi negara yang maju? Yang masih sangat terasa hingga sekarang adalah aroma pilpres kemarin. Itu seolah barang dagangan yang tidak pernah sepi dari pembeli. Belum lagi keberadaan media massa abal-abal baik cetak, elektronik maupun online yang kadang hanya menjadi provokator bagi masyarakat untuk terus menerus terkotak-kotak dengan opini yang mereka buat di tulisannya.

Jika saya semasa kecil dulu sering mendegar cerita tentang besarnya bangsa ini dan bangga menjadi Warga Negara Indonesia, maka itu bukan sekedar cerita atau dongeng semata. Dalam kenyataannya memang kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang ramah, bangsa yang sangat menjunjung tinggi arti sebuah toleransi. Sekarang? Masihkah sama? Jawabannya TIDAK! Kemana perginya karakter bangsa yang ramah dan toleran tersebut? Kerusuhan atas dalih agama terjadi dimana-mana, melecehkan orang lain berdasarkan suku dan ras yang mengalir dalam darahnya, mencaci maki pemimpin seolah dirinya sudah yang paling baik/paling sempurna di negeri ini, susah diajak gotong royong, berpikir suudzon kepada orang lain, dan masih banyak lagi yang mungkin tidak luput dari kehidupan kita sehari-hari.

Jika seperti ini yang terjadi, lalu apakah makna dari Hari Kebangkitan Nasional? Hanya makna simbolis yang menjadi sebuah rutinitas untuk dilakukan setiap tahunnya? Atau menjadi acuan untuk pemimpin bangsa ini dan seluruh warga bangsa ini untuk bebenah menjadi lebih baik? Jawabannya kembali ke diri masing-masing. Karena tidak mungkin bisa mengubah sebuah karakter secara keseluruhan jika tiap-tiap individu tidak merubah diri sendiri. Karena semut yang jauh di seberang lautan bisa jelas terlihat, namun gajah di depan mata tidak dapat terlihat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s