Satu Dekade

Sore itu pertengahan Mei 2006 adalah momen dimana saya menerima pengumuman yang menyenangkan tapi juga memilukan. Pengumuman dimana saya harus memulai kehidupan mandiri, jauh dari orang tua dan terasing di sebuah pulau kecil yang berada di tengah lautan. Pengumuman penempatan lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak, Departemen Keuangan Republik Indonesia. Itulah kira-kira nama pengumumannya.

Saat itu usia saya belum genap 22 tahun. Dan saya harus meninggalkan Jakarta, kota kelahiran saya, kota tempat saya tumbuh dari kecil hingga lulus kuliah, menuju sebuah pulau kecil yang pada saat itu masih menjadi Ibukota Propinsi Maluku Utara. Ternate, itulah nama kota kecil tersebut. Kota yang pada saat itu masih jauh dari kesan modern. Kota yang bagi saya pada saat itu jauh lebih kecil jika dibandinkan dengan Kecamatan Kramat Jati ataupun Kecamatan Jatinegara di wilayah Jakarta Timur.

Hari berganti, waktu berjalan, hingga akhirnya saya bisa merasa nyaman berada di Ternate. Kota yang awalnya saya anggap sebagai penjara deportasi saya dari Jakarta, saat itu ulai terasa sebagai rumah kedua. Bukan karena saya menikmati pekerjaan saya disana, tapi karena saya merasa nyaman dengan perlakuan sahabat-sahabat saya yang memang penduduk asli Ternate.

Mereka bukan sesama PNS, melainkan hanya tenaga honorer. Lebih tepatnya anggota Satuan Pengamanan atau Satpam di kantor tempat saya bekerja. Persahabatan saya dengan mereka sudah seperti keluarga. Dalam kondisi apapun mereka selalu bersama saya. Weekend adalah hari yang selalu kami tunggu, hari dimana kami akan menjadi bolang berkeliling Pulau Ternate atau menjelajah Pulau Tidore yang harus ditempuh dengan speed boat atau kapal ferri.

3 tahun berlalu di Ternate, akhirnya saya mendapatkan mutasi pertama saya. Tepatnya tanggal 26 November 2008. Bukan kembali ke Jakarta, melainkan ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, (masih) Propinsi Maluku Utara. Beruntung kantor saya masih diberi waktu hingga sekitar 10 bulan berada di Ternate sebelum benar-benar pindah ke Tobelo. Jadi masih ada waktu bagi saya untuk menyiapkan mental.

25 Oktober 2009 adalah hari dimana saya dan tentunya dengan teman-teman satu kantor melakukan aksi massal pindahan kantor dari Kota Ternate ke Tobelo di Kabupaten Halmahera Utara. Sebagai gambaran, Tobelo itu ada di Pulau Halmahera bagian Utara. Dari Ternate harus menyeberangi laut dengan speed boat sekitar 1 jam atau kapal ferri selama 2 jam. Kemudian melanjutkan perjalanan darat melintasi pegunungan, hutan dan pesisir pantai selama sekitar 5 jam untuk bisa sampai ke tujuan.

Pengalaman pindahan kantor melintasi laut dan menempuh jalan darat ini mungkin tidak bisa dialami semua orang, dan itu adalah pengalaman yang tidak mungkin bisa dilupakan dalam perjalanan hidup saya. Kepindahan saya ke Tobelo juga diikuti dengan kepindahan para Satpam yang menjadi sahabat-sahabat saya di Ternate. Mereka terpaksa ikut merantau ke kabupaten lain, meninggalkan Kota Ternate yang pada tahun 2009 sudah mulai berkembang.

Kondisi Tobelo tidak ubahnya seperti sebuah kawasan desa tertinggal kalau di Pulau Jawa. Jangankan sinyal 3G, listrik saja masih menyala senen kemis. Tapi semua berjalan seperti biasa, lagi-lagi saya harus bisa mengambil makna dari semua yang harus saya lalui dari semua yang harus saya lewati. Mengeluh ataupun misuh-misuh tidak akan mengubah penempatan saya langsung ujug-ujug di Kantor Pusat DJP. Justru malah terkesan seperti bocah cemen yang gak berani berpetualang.

Setelah saya menikah, istri saya pun saya ajak ke Tobelo. Dan beruntung tidak sampai 1 tahun setelah saya menikah, saya mendapatkan mutasi kedua saya. Kali ini dari bumi hibualamo, moluku kie raha, menuju bumi kaili. Kota Palu, Sulawesi Tengah. 7 Mei 2013 adalah tanggal keramat yang memindahkan saya dari tanah Maluku Utara menuju kehidupan baru di Tanah Kaili. Kota Palu dan KPP Pratama Palu adalah destinasi saya.

Kini 3 tahun berlalu, dan 10 tahun sejak awal penitian karir saya di institusi besar ini. Perjalanan saya masih panjang, kota-kota lainnya di bawah kibaran si Merah Putih masih mungkin menjadi persinggahan saya berikutnya. Hanya satu hal yang saya inginkan, dimanapun saya berada setidaknya saya bisa memberikan yang terbaik kepada masyarakat, dan memberikan yang terbaik untuk negara ini.

Karena sekecil apapun pengorbanan kita, adalah sumbangsih terbaik untuk Ibu Pertiwi.

Berikut adalah kenangan yang bisa diabadikan semasa di Maluku Utara.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s