Cerita Ramadhan

marhaban ya ramadhan

Marhaban Yaa Ramadhan

Marhaban Yaa Ramadhan, selamat datang bulan suci penuh berkah dan penuh rahmah dari Sang Pencipta kepada hamba-Nya di dunia. Bercerita tentang bulan Ramadhan, tentu tidak hanya cerita mengenai unsur agama saja, melainkan kesan dan pengalaman-pengalaman yang pernah dilalui dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

Ini merupakan Ramadhan ke-11 bagi saya menjalankan ibadah puasa Ramadhan di perantauan. Ya, di perantauan. Sebelumnya saya menjalani 7 Ramadhan di Maluku Utara, dan sekarang ini adalah Ramadhan ke-4 yang saya jalani di Sulawesi Tengah. Walaupun tidak ada bedanya menjalani Ramadhan di perantauan ataupun di tanah kelahiran sendiri, namun rasanya bagi saya Ramadhan merupakan suatu momen dimana kehangatan keluarga menjadi lebih terasa dibanding bulan-bulan lainnya.

Satu hal yang selalu saya tandai pada setiap bulan Ramadhan adalah perilaku masyarakat pada saat menyambut, menjalani 10 hari pertama, 10 hari kedua dan 10 hari terakhir. Kenapa? Mungkin hanya persepsi saya pribadi – namanya juga opini – tapi perilaku masyarakat sejak menyambut hingga menjalani bulan Ramadhan  pada umumnya membentuk sebuah pola.

Menjelang Ramadhan umumnya kesibukan yang muncul adalah mempersiapkan segala sesuatu yang akan dipakai atau dikonsumsi selama Ramadhan, misalnya membeli peralatan sholat baru dan berbelanja sembako untuk kebutuhan selama Ramadhan. Padahal, apa bedanya bulan Ramadhan dengan bulan lainnya? Toh, sama saja bukan? Hakikat berpuasa di bulan suci ini adalah supaya kita semua bisa lebih menahan diri, sekali lagi mehanan diri!

Lalu dimana hakikat menahan diri tersebut jika sebelum puasa dimulai kita sudah berbondong-bondong menyerbu pusat perbelanjaan untuk sekedar membeli peralatan sholat baru dan/atau memborong segala macam bahan makanan dengan alasan untuk persediaan selama Ramadhan? Saya memang tidak bisa menghakimi bahwa itu salah, karena memang setiap orang punya haknya masing-masing, tapi mbok yao jangan sampai menabrak hakikatnya itu sendiri.

Saya setuju jika harus mempersiapkan bahan makanan, karena memang ketika berpuasa hal yang paling malas dilakukan adalah blusukan di pasar. Tidak perlu disebut rasanya apa alasannya, jadi sebisa mungkin memang lebih baik membeli bahan pangan tersebut dan menyimpannya untuk persediaan. Setidaknya belilah bahan pangan yang kira-kira masih awet untuk dikonsumsi selama satu atau dua minggu. Selebihnya kita bisa mencarinya di penjual-penjual bahan pangan terdekat dari tempat tinggal kita. Saya kira cara semacam ini masih bisa dianggap manusiawi, tapi kalau sudah berlebih akan lain maknanya.

Selanjutnya adalah pada saat menjalani sepuluh hari pertama. Seperti biasa, pada saat awal semangat kita untuk menjalani ibadah dan berlomba-lomba mengumpulkan pahala kebaikan masih tinggi-tingginya. Hampir semua masjid penuh dari Subuh hingga Isya. Bahkan kadang saya berpikir, andaikan setiap hari suasanya selalu seperti ini mungkin kejahatan di bumi ini bisa berkurang lantaran semua orang tidak lagi punya pikiran untuk berbuat jahat, tapi pikiran untuk terus dan terus beribadah. Inilah yang saya suka ketika sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan.

Selain itu tentunya di sepuluh hari pertama kita akan mempersiapkan menu sahur dan juga berbuka puasa dengan sangat istimewa. Saya katakan istimewa karena pasti menginginkan ini itu yang tidak bisa dibeli atau rasanya kurang pas kalau dikonsumsi diluar bulan Ramadhan. Ya, itulah kira-kira selama sepuluh hari pertama. Masa dimana kita sedang on-fire menjalankan ibadah.

Memasuki sepuluh hari kedua saya rasa tidak ada yang terlalu istimewa, tapi disinilah kita akan melihat mana yang memang the real survivor  dan mana yang memang cuma angin-anginan. Saya katakan demikian karena pada sepuluh hari kedua biasanya tingkat crowded di masjid sudah mulai berkurang. Masjid secara alamiah mulai melakukan seleksi mana jama’ah yang memang tangguh, dengan jama’ah yang cuma sekedar meramaikan. Saya pernah menjadi bagian dari jama’ah yang cuma sekedar meramaikan lho. 🙂

Dan hasil dari seleksi tersebut akan terlihat di sepuluh hari terakhir, padahal pada sepuluh hari terakhir tersebut justru ada satu kesempatan dimana amal perbuatan dari ibadah yang kita lakukan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT. Pada sepuluh hari terakhir biasanya ada kemajuan di masjid, yaitu kemajuan barisan shaf. Dari yang tadinya lima shaf menjadi hanya satu shaf. Selebihnya kemana? Selebihnya sudah mulai disibukkan dengan persiapan menjelang hari raya.

Sulit menjustifikasi perilaku seseorang pada sepuluh hari terakhir, karena saya pun adalah bagian dari yang berperilaku demikian tersebut. Bagi saya yang di perantauan, sepuluh hari terakhir adalah saat dimana harus memulai perjalanan mudik. Ya, mudik. Tradisi yang hanya ada di Indonesia (katanya). Perjalanan dari tempat perantauan menuju ke kampung halaman. Perjalanan yang biasanya berakhir dengan bertemunya seluruh anggota keluarga dan merayakan hari raya bersama. Persiapan menjelang mudik inilah yang akhirnya memudarkan konsentrasi dan menggoyahkan keimanan di sepuluh hari terakhir.

Kok menggoyahkan keimanan, tho? Ya memang. Saya mengatakan demikian karena saya sudah melakukan riset, setidaknya pada diri saya sendiri dan keluarga besar saya. Biasanya di masa-masa menjelang mudik, kita lebih fokus pada persiapan mudik itu sendiri. Puasa sih tetap dijalani, tapi sunnah-nya mulai sedikit-sedikit ditinggal. Bahkan tak jarang puasa sendiri ditinggal dengan dalih hendak menjadi musafir yang melakukan perjalanan jauh. Well, it’s okay. Tidak bisa disangkal, memang demikian adanya. Saya sebagai pelaku, dan munkin juga keluarga lainnya melakukan hal yang demikian.

Lalu apakah yang tidak punya ritual lantas tetap konsisten menjalankan ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah? Jawabannya tergantung pada individu masing-masing. Sekali lagi Ramadhan memang bulan yang penuh berkah dan penuh ampunan, tapi perlu diingat ada ujian disitu yang harus dilewati. Tidak semudah itu menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Godaan hawa nafsu datang silih berganti menggoda kadar keimanan kita. Bagi yang kuat maka akan survive dan muncul sebagai pemenang sebenarnya pada saat Idul Fitri. Lalu bagaimana dengan yang gagal? Itu urusan Allah SWT, saya tidak bisa menghakimi dan tidak bisa beropini. Tapi semua punya hak untuk merayakan Idul Fitri, semua punya hak untuk bersuka cita bersama keluarga dan kerabat yang dikasihinya.

Pada akhirnya memang diri kita sendiri yang menentukan mau seperti apa kita pada saat menjalani bulan Ramadhan. Namun satu hal yang pasti, setidaknya ada semangat yang luar biasa dari kita semua untuk menjalaninya. Tinggal bagaimana kita bisa memelihara semangat itu agar terus menyala dan tidak padam, agar kita semua bisa menyambut Idul Fitri sebagai seorang pemenang. Sebagai seorang juara.

Selamat berpuasa kawan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s