Salah Ketik = Sabotase

salah ketik

Kesalahan Pengetikan, diambil dari situs bbc.com

Baca berita hari ini yang menyebutkan kalo salah satu menteri muntab sama anak buahnya lantaran salah menuliskan kepanjangan dari sebuah akronim. Anak buahnya pun dipecat tidak dengan hormat dan si menteri menuduh ada pihak di internal kementeriannya yang sengaja membuat sabotase.

Sabotase. Ya, itulah yang diungkap oleh Pak Menteri itu dalam akun sosial media dan ketika ditanya oleh para wartawan. Njenengan yakin pak kalo itu memang murni sabotase? Apa njenengan sudah punya bukti yang cukup untuk mengatakan itu sebuah sabotase?

Saya kok mikirnya itu hanya kesalahan yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan apalagi sampai di ekspos di media. Karena justru makin menunjukkan kebobrokan birokrasi di kementerian yang dipimpin oleh menteri tersebut.

Kenapa saya bilang kebobrokan birokrasi? Pertama, menurut Pak Menteri sendiri yang membuat kesalahan penulisan itu adalah pegawai honorer. Sekali lagi pegawai honorer. Duh Gusti, kementerian kok bikin undangan yang disuruh buat pegawai honorer tho, Pak? Apa njenengan itu ndak punya Pe En Es di bagian sekretariat atau humas yang bisa diberi tanggung jawab untuk urusan persuratan? Yang njenengan pimpin itu kementerian lho Pak, bukan kantor desa, kelurahan atau kecamatan!

Kedua, apakah di kementerian ini dalam tata persuratan dinasnya tidak ada Standard Operating Procedure alias SOP? Saya saja yang bekerja di unit terkecil dari sebuah kementerian itu kalau buat surat melalui beberapa tahapan sampai akhirnya ada revisi dan koreksi jika diperlukan. Dalam tahapan itu setidaknya ada konsep terlebih dahulu sebelum akhirnya surat atau undangan resmi kedinasan tersebut disetujui oleh pimpinan saya lalu dikirimkan ke penerimanya. Kadang hanya masalah titik koma saja konsep yang sudah saya buat bisa dicoret oleh pimpinan dan saya diminta untuk memperbaiki kembali redaksinya. Kementerian njenengan tidak seperti itu, Pak? Lalu pekerjaan staf dan pejabat-pejabat di kementerian njenengan itu apa, Pak?

Ketiga, berita ini seolah aib di internal kementerian yang njenengan pimpin yang wajib dan harus jadi konsumsi publik melalui pemberitaan di media. Yang ujung-ujungnya mempermalukan institusi sekaligus lembaga negara. Dengan kata lain, bisa juga dianggap mencoreng wajah pemerintah secara keseluruhan.

Sama halnya jika diibaratkan kementerian tersebut adalah sebuah keluarga, lalu salah satu anggota keluarganya berbuat kesalahan. Apakah sebagai kepala keluarga lantas njenengan mengekspos kesalahan tersebut ke orang-orang, tetangga dan media massa? Aib kok diumbar-umbar sih, Pak?

Entah apa motif dari tindakan menteri tersebut mengekspos aib di instansinya, apa karena mencari sensasi dan pencitraan supaya dianggap “Saya juga bisa tegas!” atau kelatahan berjamaah dimana semua orang termasuk pejabat negara ingin eksis di headline berita dengan judul “Pejabat Memarahi Bawahannya”.

Lagipula, kesalahan tersebut tidak akan berakibat atau berdampak fatal untuk kelangsungan negeri ini. Kesalahan pengetikan tersebut tidak akan membuat kurs rupiah makin anjlok, tidak akan membuat angka kemiskinan makin bertambah, tidak akan membuat harga kebutuhan pokok naik 10 kali lipat, tidak pula akan membuat negara ini kembali akan dijajah oleh negara lain. Justru dengan aib yang diumbar ke pemberitaan malah membuat buruk citra kementerian itu sendiri.

Lebih bijaklah dalam mengambil keputusan, tidak gegabah dan tidak pula semena-mena. Bukankah tugas pemimpin itu adalah untuk memperbaiki kekeliruan dan meminimalkan terjadinya kesalahan? Kalau sebuah masalah justru malah diumbar tanpa ada penyelesaian, berarti Pak Menteri tersebut adalah bagian dari masalah itu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s