Toleransi

Apa yang sebenarnya sedang terjadi di negeri ini? Indonesia itu bukanlah negara agama yang dilandasi dengan hukum Syariat Islam, melainkan sebuah negara yang menjungung tinggi toleransi dan menghargai orang lain yang berbeda latar belakang. Bhinneka Tunggal Ika, frasa dari Bahasa Jawa Kuno yang menjadi semboyan negara ini masihkah melekat pada jiwa setiap warga negaranya?

Berita tentang warung makan yang tetap buka di bulan ramadhan di daerah Serang kemarin menuai pro dan kontra. Ada yang setuju bahwa warung makan dilarang beroperasi pada jam-jam tertentu selama ramadhan, namun ada pula yang menentang dan membiarkan warung makan ini tetap buka asalkan diberikan syarat-syarat tertentu. Begitu pula dengan langkah penertiban yang diambil oleh pemerintah daerah setempat, harus memperhatikan hal-hal yang manusiawi.

Coba deh baca pengalaman mas Farchan Noor Rachman saat travelling di bulan ramadhan ke negara tetangga kita, Brunei Darussalam, yang nyata-nyata merupakan negara Islam dan menegakkan hukum Syariat Islam sebagai rambu-rambu dalam bersikap dan bertingkah laku di negeri tersebut. Dalam tulisan tersebut dapat disimpulkan dengan jelas bagaimana sikap Negara Islam dan sikap Negara Mayoritas Beragama Islam dalam menyikapi bulan Ramadhan.

Jika di Brunei Darussalam saja pemerintahnya memberikan izin kepada para pengusaha warung makan atau restoran untuk tetap buka dan menjual makanan kepada pembelinya (meskipun dengan syarat harus dibawa pulang), mengapa di Indonesia justru melarang hal seperti itu? Bukankah Indonesia tidak mendeklarasikan negaranya sebagai Negara Islam namun hanya negara yang mayoritas rakyatnya beragama Islam? Dan bukankah di Indonesia tidak pula mendasarkan hukumnya pada ketentuan Syariat Islam? Brunei yang Negara Islam dan menggunakan Syariat Islam saja bisa begitu toleran, mengapa Indonesia yang juga toleran sesuai Bhinneka Tunggal Ika bisa teramat sensi jika melihat ada warung makan yang buka siang hari di bulan puasa ini?

Kalaupun penertiban sekaligus razia atas warung makan ini harus dilaksanakan, mengapa yang disasar hanya warung kecil kelas teri? Mengapa restoran-restoran besar di mall atau pusat-pusat perbelanjaan dibiarkan tetap buka tanpa ada yang berani menyentuhnya? Kemudian dengan hukuman apa kiranya yang pantas diberikan kepada mereka yang tetap menggelar dagangannya di siang hari? Apakah harus disita dan kemudian barang sitaan tersebut dibagi-bagi sebagai menu berbuka puasa?

Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah reaksi masyarakat ketika mengetahui berita ini. Lalu apa menurut pihak yang melakukan razia dan penyitaan tersebut? Ternyata pihak yang melalukan razia tidak mau disalahkan, karena hanya menjalankan perintah sesuai dengan amanat Peraturan Daerah. Dengan demikian seharusnya pihak yang membuat Perda tersebut berani bertanggung jawab dan menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh jajarannya telah sesuai prosedur yang diatur dalam Perda. Sehingga tidak perlu saling menyalahkan antar jajaran pemerintah daerah.

Sudahlah, lupakan saja berita yang terjadi pada lingkup wilayah pemerintahan dinasti tersebut. Mari direnungkan bersama, sejauh mana kita memahami arti toleransi. Bukan berarti dengan toleransi lalu kita berarti kalah dan yang diberi toleransi sebagai pemenang. Tapi agar tercipta keharmonisan dan meminimalkan konflik. Yang tidak berpuasa dan membutuhkan makan itu bukan hanya mereka yang non muslim saja, melainkan umat muslim yang sedang sakit atau wanita muslimah yang sedang berhalangan juga membutuhkan makan yang dijajakan di warung makan atau restoran.

Mungkin perlu langkah seperti di Brunei Darussalam sebagai solusi atas masalah seperti ini. Dibuatkan regulasi khusus oleh pemerintah RI sebagai acuan pembuatan Perda di tiap-tiap daerah. Tapi sebenarnya, apa yang salah dengan tetap beroperasinya warung makan pada siang hari di bulan puasa? Anggap saja itu sebagai ujian yang harus dihadapi dan dilewati. Kalau pun akhirnya puasa seseorang batal hanya karena tergoda dengan makanan yang disajikan oleh pedagang tersebut, apakah seluruh umat Islam akan menerima dosanya?

Lagipula dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 183 disebutkan “Wahai orang-orang yang beriman….” bukan “Wahai orang-orang muslim…” artinya perintah puasa itu diberikan kepada umat-Nya yang beriman, tidak sebatas hanya pada umat muslim. Karena mereka yang mengaku muslim belum tentu beriman. Inilah penjelasan yang pernah saya dapat saat khotbah Jum’at beberapa minggu lalu.

Tapi kalau dicermati, memang benar apa yang disebutkan dalam Quran tersebut. Jika memang seorang muslim beriman sepenuhnya dalam arti menjauhi yang dilarang dan mendekati yang diperintahkan, maka apapun godaan yang muncul tidak akan mampu menggoyahkan keimanan seseorang. Dan tentunya tidak akan membuat seorang muslim menjadi munafik.

Semua muslim sepakat bahwa minuman keras itu haram, namun tidak sedikit juga umat muslim yang hobi menenggak minuman keras bukan?

Semua muslim sepakat zina itu haram dan berdosa besar, namun tidak sedikit juga umat muslim  yang gemar berzina bukan?

Semua muslim juga sepakat bahwa mencuri itu haram, namun tidak sedikit pula umat muslim yang korupsi mencuri uang rakyat bukan?

Jika Syariat Islam di Brunei Darussalam bisa tidak diskriminatif terhadap perbedaan, mengapa kita sebagai bangsa yang menjunjung Pancasila dengan Bhinneka Tunggal Ika selalu berseteru, selalu bermasalah dan selalu berdebat dengan hal-hal yang sensitif terkait masalah agama? Tidak bisakah membuat jalan tengah yang bisa diterima semua umat beragama? Tidak bisakah yang mayoritas menghargai dan toleransi kepada yang minoritas?

Kalau belum bisa juga memaknai arti toleransi, kebali lagi ke bangku sekolah dan pejalari kembali Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s