Setengah Perjalanan

Tak terasa hari ini adalah hari ke lima belas di bulan ramadhan, artinya perjalanan menjalankan ibadah puasa telah memasuki pertengahan. Di masa pertengahan ini akan mulai nampak sikap masing-masing orang dalam menjalani ramadhan. Ada yang masih survive, dan ada pula yang mulai mbalelo. Saya masuk yang mana ya?

Seperti menjalani ibadah puasa di tahun-tahun sebelumnya, tidak ada yang harus diistimewakan di tahun ini. Karena puasa adalah ibadah diri kita sendiri, mau diterima atau tidak amalnya itu urusan Gusti Allah. Saya sebagai hamba-Nya hanya bisa istiqomah menjalankan ibadah sesuai dengan yang telah digariskan dalam Al-Quran.

Memasuki hari ke lima belas ini berbarengan dengan momen hari jadi istri saya, jadi semakin tambah berkesan. Merayakan hari jadi saat makan sahur bersama itu merupakan kesan tersendiri bagi saya dan juga istri. Itulah yang terjadi dalam setengah perjalanan ramadhan tahun ini.

Ujian di pertengahan ramahan bagi saya sebenarnya tidak ada. Karena selama sebulan ramadhan itulah sebenarnya ujian yang sesungguhnya. Menguji keimanan dengan menahan haus, lapar, lisan, pikiran dan perbuatan. Nah di pertengahan biasanya ujiannya (bagi sebagian orang) ditambah dengan promo diskon di pusat perbelanjaan. Yang memberikan potongan harga hingga 70% atau bahkan 80% untuk baju dan perlengkapan hari raya.

Padahal hari raya tidak harus dirayakan dengan baju ataupun perlengkapan yang baru. Bagi saya (minimal) hari raya adalah sebuah kesempatan dimana saya bisa berkumpul dan bersilaturahmi dengan seluruh anggota keluarga. Karena yang lebih berharga bagi saya adalah kesempatan untuk bisa bersama keluarga, bukan kemewahan yang terpaksa ditampilkan atas nama hari raya.

Di pertengahan ramadhan ini pula biasanya jamaah di masjid mengalami kemajuan, yaitu kemajuan shaf dimana biasanya ada 10 shaf yang ikut shalat isya hingga tarawih, maju menjadi 5 shaf saat telah memasuki pertengahan ramadhan. Saya tulis seperti ini karena memang saya juga termasuk dalam bagian 5 shaf yang hilang itu, tapi bukan karena saya pergi ke mall menjadi pemburu diskon, melainkan karena memang ada urusan tertentu yang mengakibatkan saya harus absen (sebaiknya juga jangan ditiru).

Ya, apapun namanya sebagai manusia biasa yang kadar keimanannya masih dangkal memang susah mencegah hawa nafsu yang menggoda ketika ramadhan. Ingat, bisikan nafsu bukan bisikan setan. Karena konon katanya jika bulan ramadhan, seluruh setan dan iblis diikat dan dirantai oleh Allah SWT. Bisikan nafsu ini adalah apa yang ada dalam diri kita sendiri, alias keinginan dari dalam diri kita sendiri.

Maka sering orang bijak berkata, merubah diri sendiri itu lebih sulit daripada merubah orang lain apalagi merubah dunia. Jika masih saja kalah oleh gejolak nafsu sendiri maka kita seharusnya lebih banyak belajar dan bersabar, karena mengalahkan diri sendiri pun belum mampu. Termasuk mengalahkan nafsu untuk ‘membolos’ ke masjid saat menjelang isya dan tarawih.

Ingat, ini baru setengah perjalanan. Apabila setengah perjalanan ini telah dilalui dengan baik, maka tingkatkanlah agar bisa makin baik. Begitu pula bila dalam setengah perjalanan ini masih jauh dari kesan baik, maka perbaikilah. Setidaknya di pertengahan adalah waktu yang belum terlalu terlambat untuk berubah. Selamat berpuasa.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s