‘Oknum’ Pencari Sedekah

Saya bukan tidak peduli atau tidak mau memberi, tapi jika dalam satu hari saja bisa 7 sampai 8 orang yang datang ke kantor untuk meminta sumbangan ke yayasan atau panti asuhan menurut saya itu sudah sangat keterlaluan. Lebih baik saya di cap jelek oleh mereka yang meminta sumbangan tersebut, daripada saya memberi ke mereka tapi di dalam hati masih ada perasaan nggerundel dan su’udzon.

Bulan puasa memang bulan dimana semua tindakan dan perbuatan manusia untuk mencari kebaikan akan diberikan imbalan pahala yang berlipat ganda. Dengan dalih untuk membantu sesama muslim dan muslimah meraih pahala di bulan ramadhan, tidak jarang banyak ‘oknum’ yang memanfaatkannya untuk mencari keuntungan pribadi dengan cara ‘menjual’ nama anak yatim dan panti asuhan.

Fenomena ini bisa kita temui tidak hanya di rumah, di dalam gedung kantor pun ‘oknum’ ini tidak segan menerobos masuk atau mengelabuhi petugas keamanan. Apalagi jika kantor tempat bekerjanya adalah kantor pelayanan publik seperti di tempat saya bekerja, pasti akan sulit bagi petugas keamanan mengidentifikasi seseorang itu mau meminta sumbangan atau memang datang untuk berkonsultasi.

Di awal ramadhan kemarin saya masih sempat berpikir bahwa ini adalah sesuatu yang wajar, yang akan kembali normal saat memasuki minggu kedua atau menjelang akhir ramadhan. Tapi ternyata saya salah, makin mendekati akhir ramadhan makin gencar orang-orang yang datang dengan membawa proposal sumbangan dan santunan anak yatim atau panti asuhan.

Memang sih kekhawatiran saya dengan sikap su’udzon itu seharunya dibuang jauh-jauh saat sedang berpuasa, karena belum tentu juga orang-orang yang saya sebut sebagai ‘oknum’ tersebut hanya mencari sumbangan untuk kepentingan dirinya sendiri. Bisa jadi itu semua memang benar adanya, benar-benar dana yang dikumpulkan itu disalurkan kepada anak yatim dan untuk operasional yayasan atau panti asuhan.

Akan tetapi, kalau dalam sehari saja yang datang ke ruangan saya, meminta ke saya atau ke teman-teman seruangan saya bisa mencapai 7 hingga 8 orang, apakah ini wajar? Bisa jadi ini semua adalah bentuk ujian kesabaran saat sedang berpuasa, tapi disisi lain pasti sebagai manusia biasa ada rasa jengkel dan kesal jika harus setiap hari menghadapi hal seperti itu.

Di kantor saya ada batasan interaksi antara saya sebagai petugas dengan masyarakat yang datang untuk bertemu, entah itu untuk klarifikasi data atau hanya sekedar konsultasi. Saya dibatasi kode etik, dimana ada larangan untuk menerima tamu di area cubicle kerja saya. Kantor telah menyediakan ruang tunggu sekaligus area konsultasi sebagai tempat interaksi saya dengan masyarakat. Tapi para ‘oknum’ yang saya sebutkan dengan mudahnya menerobos sekat pembatas dan langsung berkeliling menemui satu persatu untuk menyampaikan proposalnya.

Ini bukan masalah ikhlas atau tidak ikhlas. Bagi saya lebih baik untuk datang langsung ke panti asuhan terdekat dari tempat tinggal saya dan memberikan apa yang akan saya beri untuk mereka. Itu lebih baik daripada hati ini selalu diselimuti oleh sifat su’udzon. Dan selama ini saya memang melakukannya seperti itu. Dan menjelang akhir ramadhan kalau tidak sempat berkunjung ke panti asuhan, maka biasaya saya langsung ke lembaga pengumpul zakat yang memang resmi terdaftar.

Semoga hati ini bisa selalu berprasangka baik kepada setiap peminta sumbangan dan sedekah. Dan semoga memang benar apa yang mereka lakukan adalah murni untuk kepentingan anak yatim dan panti asuhan, bukan untuk kepentigan pribadi.

Sudahkah anda bersedekah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s