Macet dan Lebaran

Lebaran hampir 3 minggu berlalu, tapi cerita tentang perjalanan mudik tahun ini rasanya belum ‘basi’ untuk dibahas. Berita tentang kemacetan parah di tol brebes timur adalah catatan sejarah betapa melelahkannya perjalanan mudik tahun ini. Padahal kalau saya amati, tidak ada sumber kemacetan yang bisa dijadikan ‘kambing hitam’ atau ‘biang kerok’ atas kejadian ini. Lalu apa sebabnya?Saya memang tidak merasakan langsung perjalanan yang harus menembus kemacetan di tol brebes timur itu. Tapi saya mendengar sendiri penjelasan keluarga saya yang merasakan ‘penderitaan’ di salah satu ruas tol trans jawa tersebut. Hampir selama 16 jam terjebak di kota brebes, bahkan sebelumnya selama 10 jam kendaraan yang ditumpangi stagnan tidak bergerak menunggu antrian menuju gerbang tol yang akrab disebut ‘brexit’ tersebut.

Gerbang Brexit

Kemacetan di Brexit dari Liputan6

Rasanya tidak lengkap perjalanan mudik lebaran bila tidak bertemu dengan kemacetan. Sama halnya dengan Jakarta yang menjadikan kemacetan sebagai icon dari Ibukota Indonesia tersebut. Begitu pula dengan kemacetan dalam perjalanan mudik, seolah telah menjadi satu paket dengan perayaan lebaran setiap tahunnya di Pulau Jawa. Lalu mengapa setiap tahun selalu seperti ini? Bukankah pemerintah telah mengantisipasi dengan terus mempercepat pembangunan jalan tol trans jawa?

Setelah diresmikannya tol Cikampek Palimanan atau yang sering disebut sebagai Tol Cipali pada tahun 2015 lalu tentunya memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin menempuh perjalanan dari ujung barat Pulau Jawa menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jadi apabila seorang pemudik memulai perjalanannya dari Merak dan hendak menuju Semarang misalnya, ia cukup masuk jalan tol Jakarta Merak, Tol Dalam Kota Jakarta, Tol Cikampek, Tol Cipali, Tol Palikanci Pejagan dan Tol Pejagan Brebes. Semuanya telah tersambung, dalam kondisi normal tentu bisa menghemat waktu tempuh.

Namun jika volume kendaraan yang melintas tidak sebanding dengan kapasitas jalan tol, maka kemacetan yang terjadi. Semua ingin masuk jalan tol, semua ingin cepat sampai tujuan dan semua ingin membawa kendaraan sendiri baik itu milik pribadi, sewaan atau pinjam punya kantornya. Inilah fenomena yang terjadi setiap mudik. Jika beberapa tahun lalu Jalur Pantai Utara Jawa atau Pantura menjadi primadona, maka kini ruas tol Cipali hingga Brebes adalah the rising star berikutnya. Alasannya seperti yang saya sampaikan tadi, semua ingin cepat sampai tujuan maka dipilihlah rute melalui jalan tol.

Yang kemarin terjadi di gerbang tol brebes timur adalah menumpuknya kendaraan yang akan membayar tol dan keluar menuju jalur Pantura Brebes ke Tegal dan seterusnya. Disinilah sebenarnya titik kemacetannya. Karena arus ribuan mobil dan bus yang keluar dari gerbang tol akan bertemu di jalur biasa dengan pemudik yang menggunakan sepeda motor dan juga dengan kesibukan kota brebes berupa aktifitas pasar dan lain sebagainya.

Peta Brexit

Foto Udara Tol Brebes Timur dari Google Earth

Dari peta foto udara tersebut dapat saya simpulkan bahwa sumber kemacetan pertama kali setelah keluar dari gerbang tol adalah perlintasan kereta api, kemudian pertigaan di jalur pantura. Apalagi arus kendaraan dari arah Cirebon yang tidak melalui jalan tol juga sangat tinggi, bertemu dengan arus kendaraan yang keluar dari jalan tol. Jika tidak ada mengatur dan semua pengendara tidak ada yang mau mengalah maka dipastikan terjadi penumpukan kendaraan dan kemacetan mengular hingga ke dalam jalan tol.

Lelah dan kondisi bahan bakar yang mulai menipis membuat sebagian besar pemudik segera mencari SPBU untuk mengisi bahan bakar sekaligus beristirahat. Ini kemudian juga membuat antrian dan menimbulkan kemacetan yang luar biasa. Akibatnya kondisi lalu lintas lumpuh, kendaraan tidak bergerak.Petugas pengatur lalu lintas tidak mampu memaksa pemudik di yang berhenti di SPBU karena memang sudah kelelahan untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Itulah fenomena yang terjadi saat mudik kemarin, yang beritanya hingga menjadi sorotan media internasional. Sebuah berita yang membuat malu wajah Indonesia. Kesalahan yang sebenarnya tidak hanya disebabkan oleh pemerintah, tapi juga kita sebagai bagian dari warga negara. Terlalu sulit untuk diungkapkan untuk mengurai sekaligus memberikan solusi terkait masalah kemacetan ini. Yang pasti, apapun yang terjadi saat mudik itulah seni dari tradisi tahunan yang melekat pada masyarakat Indonesia khususnya yang berada di Pulau Jawa.

Dengan selesainya pembangunan tol trans jawa yang digadang-gadang akan memberikan solusi kemacetan, saya rasa tidak sepenuhnya ampuh mengobati kemacetan tahunan setiap musim mudik tiba. Tol hanya akan memindahkan titik kemacetan dari satu kota ke kota lainnya. Jika sebelum adanya Tol Cipali kemacetan terjadi di wilayah Jawa Barat khususnya Subang hingga Indramayu, maka kini mulai beralih ke Jawa Tengah. Begitu seterusnya.

Satu-satunya cara yang mujarab menurut pendapat saya adalah dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi saat mudik. Sudah saatnya transportasi umum massal seperti kereta api digunakan dan dimaksimalkan fungsinya. Untuk transportasi darat seperti bus, saya masih belum yakin karena perilaku pengemudi bus kadang masih menjadi masalah serius. Kecelakaan yang terjadi kemarin saat arus balik menjadi bukti bahwa transportasi bus masih meragukan dari sisi kenyamanan dan keselamatan. Perilaku supir bus yang masih condong mengejar setoran dan ugal-ugalan dijalan menjadi pertimbangan tersendiri saat memilih moda transportasi ini.

Tetapi bila budaya sudah mengakar dan mendarah daging, maka solusi transportasi umum yang nyaman sekalipun rasanya tidak akan membuat semua orang langsung berbondong-bondong move on dari kendaraan pribadi dengan beragam alasan tentunya. Tapi setidaknya kedepan, para pemudik untuk lebih matang dalam mempersiapkan perjalanan mudiknya. Silaturahmi tidak hanya pada saat hari H lebaran saja, tapi kapan pun tidak akan mengurangi makna dan pahala silaturahmi itu sendiri.

Advertisements

2 thoughts on “Macet dan Lebaran

  1. Memang mudik tahun ini merupakan salah satu mudik yang terparah ya gan.
    Semoga ini jadi pelajaran dan bisa dievaluasi supaya tidak lagi terjadi kejadian yang terus berulang kaya gini.

    Like

  2. Sangat parah gan. Tapi disatu sisi juga bangsa ini jangan selalu menyalahkan pemerintah, apalagi kasus yang kemarin sampai ada yang meninggal. Karena nggak mungkin kan pemerintah bisa kompromi sama malaikat maut untuk tidak bertugas mencabut nyawa. Semua kembali ke tiap individu sih bagaimana merencanakan perjalanan dan siap dengan segala risiko yang ada.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s