Angkringan Bintang Lima

Awalnya saya membaca postingan di grup Facebook Info Kota Palu tentang promosi angkringan yang disediakan di Hotel Santika Palu. Mendengar kata angrikngan, tentunya saya membayangkan makanan enak dengan harga yang murah meriah dan enak tentunya. Nasi kucing, sate usus dan telur puyuh merupakan makanan khas yang bisa dijumpai di angkringan. Dengan penuh semangat dan juga lapar, saya ajak istri dan anak saya makan di angkringan Hotel Santika itu.

IMG_20160803_193141

Meja Yang Menyajikan Makanan di Angrkingan Hotel Santika Palu

Saat saya tanya istri saya, ia menjawab setuju. Kebetulan hari itu memang kami berencana untuk makan diluar karena istri sedang tidak mood untuk memasak. Selepas adzan Isya saya sekeluarga meluncur ke lokasi. Dalam perjalanan istri saya tidak terlalu yakin dengan angkringan yang ada di hotel. Dia beralasan bahwa angkringan terkenal dengan makanan yang enak dan harga yang bersahabat, jika disajikan di hotel maka kemungkinan hanya akan menemui makanan yang enak tapi harga yang kurang bersahabat.

Kira-kira 10 menit perjalanan saya dari rumah menuju ke hotel tersebut. Tempatnya berada disi sisi sebelah kanan hotel, dekat dengan ballroom hotel. Kami pun langsung menuju ke meja yang disediakan dan dipersilahkan untuk memilih makanan. Menu yang ditawarkan malam itu adalah nasi kucing, sate ayam, telur ayam bumbu kecap, bakso, tahu dan tempe bacem. Ada beberapa menu lain tapi saya tidak terlalu memperhatikan. Juga tersedia beberapa kue atau jajanan pasar.

Untuk nasi kucing dihargai 5000 rupiah, dan untuk tiap jenis lauk dihargai 3000 rupiah. Juga tersedia teh hangat, kopi dan juga saraba. Saya memesan 1 nasi kucing dan 3 tusuk sate ayam, istri saya memesan menu serupa ditambah dengan telur bumbu kecap untuk si Abinaya anak saya. Untuk minumnya saya dan istri memesan teh tawar hangat. Anak saya awalnya mau diambilkan air minum yang dibawa sendiri tapi ditinggal di mobil, namun karena umumnya ada larangan membawa makanan dan minuman dari luar maka kami memesan air mineral saja disitu.

IMG_20160803_193829

Menu Yang Kami Pesan di Angkringan

Benar dugaan saya, rupaya angkringan di hotel itu tidak menyediakan air mineral semacam Aqua atau yang sejenisnya. Yang diberikan ke kami adalah air mineral berkelas dengan merk Equil. Air mineral yang sering saya lihat di televisi, yang disajikan dalam rapat kepresidenan di istana negara. Mendadak saya kehilangan selera makan, saya langsung membayangkan harga air mineral itu. Saya sampaikan ke istri saya bahwa kemungkinan air mineral itu menjadi yang paling mahal harganya dibanding dengan makanan yang kami makan.

Niat untuk mencicipi semua menu di angkringan tersebut akhirnya terpaksa diurungkan. Saya sudah kehilangan selera makan. Bukan karena rasa makanan yang tidak enak, tapi karena ada sesuatu yang mengganjal yang muncul setelah melihat botol Equil itu tersaji di meja. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk pulang setelah anak saya menyelesaikan makannya.

Dan benar dugaan saya, air minum itu menyedot porsi paling besar dari semua yang kami pesan. Sepertinya saya lupa bahwa yang saya datangi itu adalah restoran di dalam hotel yang menyediakan ruangan dengan konsep angkringan. Bagaimanapun juga yang namanya hotel akan memberikan charge dan tax untuk setiap makanan ataupun minuman yang disajikan.

Hanya saja saya juga memberi catatan tersendiri untuk pihak hotel, khususnya yang mengelola angkringan tersebut. Semestinya disediakan air mineral yang lebih ‘manusiawi’ untuk setiap pengunjung yang datang ke angkringan tersebut. Equil menurut saya tidak ‘manusiawi’ untuk disajikan di angkringan. Air mineral lain yang lebih merakyat rasanya lebih cocok meskipun disajikan di restoran milik hotel. Alhasil bill yang harus dibayar memunculkan nama air mineral sebagai yang paling mahal.

Setidaknya itu menjadi pengalaman yang membuat kami belajar, apapun yang dikemas dan disajikan dengan tema merakyat sepanjang disajikan di dalam wilayah hotel atau restoran maka tetap saja harganya menjadi tidak merakyat. Hilang sudah image angkringan yang terkenal murah meriah. Tapi kami mengakui, itu semua murni kesalahan kami. Kelatahan yang muncul saat mendengar kata angkringan. Dan akhirnya kami merasakan makan di angkringan dengan harga bintang lima.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s