Review: Ayat-Ayat Cinta 2

IMG_20160804_061612

Buku Novel Ayat-Ayat Cinta 2 Milik Saya

Melihat buku ini pertama kali saat libur lebaran kemarin di Toko Buku Gramedia Mall Teras Kota, BSD. Langsung tanpa pikir panjang saya mengambilnya. Bukan tanpa alasan, karena di seri yang pertama cerita yang disajikan dalam buku tersebut ditulis dengan sangat apik dan menjadi best-seller bahkan diangkat ke layar lebar pula. Kesuksesan buku sebelumnya membuat siapapun yang pernah membaca buku ini pasti akan kembali dibuat penasaran dengan serial berikutnya.

Setelah dibeli saya tidak langsung membacanya karena saya belum menyelesaikan membaca buku novel lain yang berjudul Mengunyah Rindu. Saya akhirnya mulai membacanya setelah kembali ke Palu dan menghabiskan waktu selama 4 hari untuk menyelesaikan semuanya sebanyak 690 halaman.

Ada banyak tokoh yang dimunculkan dalam novel kedua ini selain Fahri dan Aisha sebagai tokoh utamanya. Bedanya, jika pada seri sebelumnya mengambil lokasi di Mesir, maka pada seri kedua ini lokasi yang diceritakan adalah Skotlandia dan Inggris Raya. Awalnya saya menduga bahwa pernikahan Fahri dan Aisha telah kandas, tapi ternyata bukan perceraian yang terjadi.

Aisha istri Fahri diceritakan hilang saat mengunjungi Palestina dan hal itu membuat Fahri merasa kehilangan yang teramat sangat dalam karena rasa cinta dan sayangnya kepada istrinya itu. Dengan segala daya dan upaya Fahri mencoba untuk mencari tahu keberadaan istrinya apakah masih hidup atau sudah meninggal. Disisi lain keluarga, kerabat dan orang terdekatnya berusaha agar Fahri move on mencari pengganti Aisha.

Selain konflik dengan dirinya sendiri, ada konflik lain yang tidak kalah menarik yang dimunculkan dalam novel ini. Dikisahkan bagaimana Fahri harus menghadapi persepsi negatif di lingkungannya atas keislaman yang dianutnya dan berusaha merubah semua tuduhan dan persepsi orang-orang tersebut. Banyak hal yang bisa kita ambil menjadi pelajaran berharga berdasarkan konflik yang diciptakan di dalam novel ini.

Sikap dermawan dan kasih sayang tanpa memandang asal usul dan agama ditunjukkan Fahri untuk menjawab stigma negatif tentang Islam. Saya juga disuguhkan bagaimana Fahri menjawab tantangan debat dengan Yahudi dan orang-orang yang menganggap agama hanya sebagai sumber konflik, perpecahan dan peperangan. Terorisme kebanyakan mengatasnamakan Islam, dan Fahri mampu menjawab bahwa bukan seperti itulah pandangan Islam dan terorisme bukanlah ajaran yang ada dalam Islam.

Sebenarnya banyak hal yang bisa diuraikan secara lebih mendetail dalam novel ini, yaitu bagaimana Kang Abik sebagai penulis secara apik dan detail menggambarkan kota Edinburg di dalam novel ini. Hanya saja saya menemukan banyak sekali typo atau kesalahan penulisan di dalam novel ini. Entah kesalahan ini karena penulis atau editor yang kurang cermat dalam mengedit buku ini.

Secara keseluruhan novel ini sangat menarik, sungguh jauh lebih menarik dibanding seri pertamanya. Selain kisah cinta, dakwah dan juga toleransi, novel ini juga memberikan semacam motivasi kepada pembacanya meskipun sebenarnya yang ada dalam novel ini hanyalah fiksi belaka. Namun begitu ada hal yang menggelitik saya di dalam cerita ini, yaitu tokoh Fahri disini digambarkan terlalu datar.

Maksud saya digambarkan terlalu datar adalah seolah kisah hidup Fahri teramat sempurna, satu-satunya kesusahan yang melanda dirinya hanyalah tentang kehilangan Aisha istrinya. Itupun pada akhirnya ia dapat kembali menemukan Aisha, dengan lika-liku yang justru terasa lebih berat bagi Aisha ketimbang bagi Fahri. Segala hal yang ia inginkan seolah dapat dengan mudah di dapatkannya. Entah hanya saya yang merasakan kesan demikian, atau mungkin juga akan ditemukan juga oleh pembaca lainnya. Tapi hal ini tidak merusak atau mengurangi makna dari novel itu sendiri.

Selanjutnya silahkan anda sendiri yang membacanya. Apa saja konflik yang dihadapi Fahri dan bagaimana Fahri menghadapi sekaligus menyelesaikan konflik tersebut. Dan bagaimana perjalanan hidup Fahri tanpa Aisha hingga ia dapat kembali menemukan belahan jiwanya tersebut. Semua disajikan secara sistematis dan menarik di dalam novel ini. Dan pastinya kisah ini berakhir dengan haru bahagia, jadi jangan lupa juga menyiapkan tisu saat membaca novel ini.

Hanya ini yang bisa saya tuliskan mengenai Ayat-Ayat Cinta 2, mungkin masih banyak blogger lain yang mampu menyajikan penulisan review secara lebih mendetail dan jelas. Tapi harapan saya apa yang tertulis disini bisa menjadi salah satu referensi sebelum membeli. Dan jika saya diminta memberikan 1 sampai dengan 5 bintang untuk novel ini, maka saya akan memberikan 5 bintang untuk Ayat-Ayat Cinta 2 ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s