Mengenal Faktur Pajak

Istilah faktur sudah sering dijumpai dalam setiap transaksi penjualan maupun pembelian barang/jasa. Tetapi tidak sedikit juga yang belum memahami apa sebenarnya faktur itu, khususnya faktur pajak. Banyak yang mempersamakan faktur dengan invoice ataupun kwitansi. Tidak salah memang, tetapi perlu diluruskan agar pemahaman mengenai faktur khususnya faktur pajak agar tidak terjadi salah kaprah mengenai mekanisme penerbitan dan penggunaan faktur pajak itu sendiri.

Faktur Pajak berdasarkan definisi Pasal 1 angka 23 Undang-undang Nomor 42 tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dijelaskan bahwa: Faktur Pajak adalah bukti pemungutan yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak.

Jadi Faktur Pajak adalah bukti pemungutan atas transaksi jual beli barang ataupun jasa. Pembuatnya adalah Wajib Pajak yang sudah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, oleh karena itu tidak semua Wajib Pajak (Perusahaan atapun Orang Pribadi) bisa menerbitkan Faktur Pajak. Harus terdaftar sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) terlebih dahulu baru kemudian bisa menerbitkan Faktur Pajak dalam setiap transaksinya.

Faktur Pajak merupakan bukti pemungutan atas jenis pajak PPN (Pajak Pertambahan Nilai) dan di dalam faktur tersebut terdapat sejumlah uang yang dipungut oleh penerbit faktur dari para konsumen atau lawan transaksinya. Namun tidak semua transaksi dilakukan secara demikian, nanti akan saya uraikan bedanya pengenaan PPN atas transaksi dengan sesama PKP dan transaksi dengan Pemungut PPN.

Mulai 1 Juli 2016 yang lalu, administrasi pembuatan faktur pajak mulai dari penomoran hingga ke pencetakan faktur dilakukan secara online menggunakan aplikasi eFaktur. Untuk mendapatkan aplikasi eFaktur wajib pajak dapat mengunduhnya melalui alamat https://efaktur.pajak.go.id dengan menggunakan user dan passsword enofa yang telah diperoleh pada saat registrasi PKP.

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana cara menggunakan efaktur. Saya hanya akan memberikan pemahaman mengenai fungsi dark faktur itu sendiri. Sebagaimana telah dijelaskan diawal bahwa fungsi faktur pajak adalah sebagai bukti pemungutan PPN. Jadi sederhananya adalah penjual memungut PPN dengan menggunakan faktur pajak dan bertanggung jawab menyetorkan PPN yang telah dipungut tadi ke kas negara.

Dalam pemungutan PPN akan dikenal istilah pajak masukan dan pajak keluaran. Pajak masukan adalah pajak yang dipungut oleh pihak lain saat melakukan pembelian barang/jasa. Sedangkan pajak keluaran adalah pajak yang dipungut saat menjual barang kepada konsumen/rekanan. 

Jika penyerahan barang/jasa dilakukan kepada pihak yang berstatus sebagai pemungut PPN misalnya bendahara pemerintah atau pihak swasta semisal BUMN maka pihak penjual tetap membuat faktur pajak, namun pembayaran pajaknya dilakukan oleh pembelinya yaitu pemungut tadi.

Setelah menggunakan efaktur maka hasil cetakan faktur pajak tidak perlu lagi ditanda tangani oleh penjual. Karena telah menggunakan tanda tangan elektronik berbentuk barcode dan juga sudah tidak diperlukan lagi validasi oleh pihak pemungutnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s